Ketika menulis lagu ini sekitar tahun 1985, mungkin Iwan Fals tidak mengira bahwa lagu sederhana tentang penjaja koran kecil ini akan tetap faktual di tahun 2007. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, memang masih banyak "Budi - Budi kecil" yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Apakah ini berarti Lagu Iwan Fals yang "timeless", atau memang keadaan negeri ini yang tetap compang - camping seperti dua puluh tahun yang lalu?
===================================================
Si Budi kecil kuyup menggigil,
menahan dingin tanpa jas hujan,
di simpang jalan tugu pancoran,
tunggu pembeli jajakan koran.
Menjelang maghrib hujan tak reda,
si Budi murung menghitung laba.
Surat kabar sore dijual malam,
selepas 'isya melangkah pulang.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu,
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu,
dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal!
Cepat langkah waktu pagi menunggu,
si Budi sibuk siapkan buku,
tugas dari sekolah siap setengah,
sanggupkah si Budi diam di dua sisi?
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu,
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu,
dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal!
